Usai rutinitas harian…seminggu bergelut dengan komputer dan tumpukan buku-buku stok barang yang angkanya dah meluap di otak…super rumit…audit bulanan…puyengku masih bersisa…
Susuri terusan Beji…hari ni, gak ada lagi angkot jurusan menuju kost…musti melangkah beberapa ribu kaki lagikah? Adanya jalan layang, efeknya buatku tersiksa begini!
Kemarin, aku jadi pengungsi! Demo supir angkot berujung tawuran antar pak supir yang saling berseberangan rute! Lemparan batu-batu berukuran kepalan tangan bersiliweran di depan kantorku! Otomotasis jalanan seketika lenggang! Setiap angkot yang yang kepergok memuat penumpang, di arak, penumpang di paksa keluar , pak supir dan angkotnya dipukuli… dibilang gak kompak!!!
Aku dan rekan…terpaksa keluar kantor…mencari aman, sebelum suasana makin memuncak! Siang yang teriknya tepat di ubun-ubun…kian menyulut emosi para pendemo, para penumpang yang terpaksa jalan kaki, para petugas keamanan yang bersiaga dan para pemilik toko dan kantor yang terpaksa mendadak menghentikan aktivitas. Kecuali…si Michael…bocah kecil bermata sipit, buah hati bosku yang melonjak-lonjak kegirangan, ingin menghambur ke tengah kerumunan pendemo….
Ah…Depok! Kota kecil…memendam gejolak! Gejolak para warga asli, para pendatang dan para bapak-bapak yang ingin jadi pemimpin….
Gejolak juga di hatiku yang memaksa terus melangkah…! Tapi…memang harus mengaso dulu! kandungan telah tua dan berat…harus segera melahirkan…dan…yang utama tenangkan hati orangtua…pulanglah Fate’!
